
SEJARAH SRIWIJAYA
Ilmu
Pengetahuan Mengenai Sejarah Kerajaan Sriwijaya Baru Lahir Pada
Permulaan Abad Ke-20 M, Ketika George Coedes Menulis Sebuah Karangannya
Mengenai Kerajaan Sriwijaya Berjudul Le Royaume De Crivijaya Pada Tahun
1918 M. Sebenarnya, Lima Tahun Sebelum Itu, Yaitu Pada Tahun 1913 M,
Kern Telah Menerbitkan Tulisan Tentang Prasasti Kota Kapur, Sebuah
Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Yang Ditemukan Di Pulau Bangka.
Namun
Saat Itu, Kern Masih Menganggap Nama Kerajaan Sriwijaya Yang Tercantum
Pada Prasasti Tersebut Sebagai Nama Seorang Raja, Karena Cri Biasanya
Digunakan Sebagai Sebutan Atau Gelar Raja. Pada Tahun 1896 M, Sarjana
Jepang Takakusu Menerjemahkan Karya I-Tsing, Nan-Hai-Chi-Kuei-Nai
Fa-Chan Ke Dalam Bahasa Inggris Dengan Judul A Record Of The Budhist
Religion As Practised In India And The Malay Archipelago.
Namun,
Dalam Buku Tersebut Tidak Terdapat Nama Kerajaan Sriwijaya, Yang Ada
Hanya Shih-Li-Fo-Shih. Dari Terjemahan Prasasti Kota Kapur Yang Memuat
Nama Kerajaan Sriwijaya Dan Karya I-Tsing Yang Memuat Nama
Shih-Li-Fo-Shih, Coedes Kemudian Menetapkan Bahwa, Kerajaan Sriwijaya
Adalah Nama Sebuah Kerajaan Di Sumatera Selatan.
Banyak Dugaan
Bahwa Awal Masuknya Agama Buddha Ke Indonesia Adalah Pada Kedatangan Aji
Saka Ke Tanah Jawa Pada Awal Abad Kesatu. Dugaan Ini Berawal Dari
Etimologis Terhadap Kata Aji Saka Itu Sendiri, Serta Hal-Hal Yang
Berkaitan Dengannya. Kata " Aji " Dalam Bahasa Kawi Bisa Berarti Ilmu
Yang Ada Hubungannya Dengan Kitab Suci, Sedangkan " Saka " Ditafsirkan
Sebagai Kata Sakya Yang Mengalami Transformasi.
Dengan Demikian
Mungkin Kata Aji Saka Ditafsirkan Sebagai Gelar Raja Tritustha Yang Ahli
Mengenai Kitab Suci Sakya, Dalam Hal Ini Ahli Tentang Buddha Dhamma,
Selain Dianggap Sebagai Orang Yang Bertanggung Jawab Terhadap Pembuatan
Aksara Jawa. Bila Hal Ini Benar, Tarikh Saka Yang Permulaanya Dinyatakan
Sebagai " Nir Wuk Tanpa Jalu " [ Nir Berarti Kosong [ 0 ], Wuk Berarti
Tidak Jadi [ 0 ], Tanpa Berarti 0 Dan Jalu Sama Dengan 1 ] Yang
Sekaligus Dimaksudkan Untuk Mengabadikan Pendaratan Pertama Aji Saka Di
Jepara.
Lebih Lanjut, Coedes Juga Menetapkan Bahwa, Letak Ibukota
Kerajaan Sriwijaya Adalah Palembang, Dengan Bersandar Pada Anggapan
Groeneveldt Dalam Karangannya, Notes On The Malay Archipelago And
Malacca, Compiled From Chinese Source, Yang Menyatakan Bahwa, San-Fo-Tsi
Adalah Palembang.
Sumber Lain Yang Juga Menunjukan Hal Yang Sama,
Yaitu Beal Mengemukakan Pendapatnya Pada Tahun 1886 Bahwa,
Shih-Li-Fo-Shih Merupakan Suatu Daerah Yang Terletak Di Tepi Sungai
Musi, Dekat Kota Palembang Sekarang. Dari Pendapat Ini, Kemudian Muncul
Suatu Kecenderungan Di Kalangan Sejarawan Untuk Menganggap Palembang
Sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya.
Banyak Sumber Pengetahuan Kita
Tentang Agama Buddha Diambil Dari Prasasti Yang Ditemukan Dan Dari
Catatan-Catatan Luar Negri, Yaitu Dari Orang China Yang Mengunjungi
Indonesia. Prasasti Yang Berasal Dari Abad Kelima Hingga Ketujuh Tidak
Terlalu Banyak Memberikan Informasi. Prasasti Itu Berasal Dari
Kalimantan, Sumatra Dan Jawa.
Dari Prasasti Itu Kita Hanya
Mengetahui Bahwa Pada Waktu Itu Ada Raja-Raja Yang Memiliki Nama Yang
Berbau India, Seperti Mulawarman Di Kutti Dan Purnawarman Di Jawa-Barat.
Tetapi Hal Itu Tidak Berarti Bahwa Raja Tersebut Berasal Dari India.
Yang Paling Mungkin Adalah Raja-Raja Tersebut Adalah Orang Indonesia
Asli Yang Sudah Masuk Agama Yang Datang Dari India. Selanjutnya Prasasti
Tersebut Menunjukan Bahwa Agama Yang Dipeluk Adalah Agama Hindu. Tapi
Dari Penemuan Patung-Patung Buddha, Dapat Disimpulkan Bahwa Agama Buddha
Juga Sudah Ada, Walaupun Jumlahnya Masih Sedikit.
Sumber Lain
Yang Mendukung Keberadaan Palembang Sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya
Adalah Prasasti Telaga Batu. Prasasti Ini Berbentuk Batu Lempeng
Mendekati Segi Lima, Di Atasnya Ada Tujuh Kepala Ular Kobra, Dengan
Sebentuk Mangkuk Kecil Dengan Cerat [ Mulut Kecil Tempat Keluar Air ] Di
Bawahnya. Menurut Para Arkeolog, Prasasti Ini Digunakan Untuk
Pelaksanaan Upacara Sumpah Kesetiaan Dan Kepatuhan Para Calon Pejabat Di
Kerajaan Sriwijaya.
Dalam Prosesi Itu, Pejabat Yang Disumpah
Meminum Air Yang Dialirkan Ke Batu Dan Keluar Melalui Cerat Tersebut.
Sebagai Sarana Untuk Upacara Persumpahan, Prasasti Seperti Itu Biasanya
Ditempatkan Di Pusat Kerajaan. Karena Ditemukan Di Sekitar Palembang
Pada Tahun 1918 M, Maka Diduga Kuat Palembang Merupakan Pusat Kerajaan
Sriwijaya
Beberapa Ahli Mengatakan Bahwa Ye-Po-Ti Adalah Jawa [
Javadvipa ]. Fah-Hien Menyebutkan Ada Umat Buddha Di Ye-Po-Ti, Walaupun
Cuma Sedikit. Sekalipun Demikian Agaknya Sesudah Abad Kelima Keadaan
Berubah. Tidak Sampai Tiga Ratus Tahun Kemudian, Pada Akhir Abad
Ketujuh, Biksu China I-Tsing Mencatat Dengan Lengkap Agama Buddha Dan
Aplikasinya Di India Dan Melayu.
Ketertarikan Utamanya Adalah
Pada " Rumah Agama Buddha " India Utara Dimana I-Tsing Tinggal Dan
Belajar Disana Selama Lebih Dari Sepuluh Tahun. Dari Catatannya Dapat
Dikatakan Bahwa Agama Buddha Di India Dan Sumatra Mempunyai Banyak
Kesamaan, Dimana I-Tsing Juga Menemukan Perbedaan Antara Agama Buddha Di
China Dan Di India. I-Tsing Menghabiskan Waktunya Hidup Sendirian
Sebagai Biksu Di India Dan Sumatra. Seluruh Bukunya Merupakan Catatan
Lengkap Tentang Kehidupan Biarawan. Ia Tinggal Di India Seluruhnya
Berdasarkan Peraturan Vinnaya.
Bila Dibandingkan Catatan Fah-Hien
Tahun 414 Dengan Catatan I-Tsing, Dapat Diambil Kesimpulan Bahwa Agama
Buddha Dipulau Jawa Dan Sumatra Telah Dibangun Dengan Sangat Cepat.
Pekerjaan I-Tsing Selain Menulis Catatan Seperti Dikemukakan Diatas, Ia
Juga Menulis Buku Tentang Perjalanan Seorang Guru Agama Terkenal Yang
Pergi Ke Negri Disebelah Barat [ Kerajaan Sriwijaya ? ].
Diceritakannya
Pada Catatannya Itu, Kehidupan Biarawan Yang Pada Intinya Hampir Sama
Dengan Yang Ada Di India. Dalam Bukunya Dikatakan Bahwa Biksu Asli Jawa
Dan Sumatra Adalah Sarjana Sanskrit Yang Sangat Bagus. Salah Saatunya
Adalah Jnanabhadra Yang Merupakan Orang Jawa Asli Yang Tinggal Di
Sumatra Dan Bertindak Sebagai Guru Bagi Biksu China Dan Membantu
Menterjemahkan Sutra Kedalam Bahasa China. Bahasa Yang Digunakan Oleh
Biksu Buddha Adalah Bahasa Sanskrit.
Bahasa Pali Tidak Digunakan.
Bagaimanapun Hal Ini Tidak Boleh Dijadikan Patokan Bahwa Agama Buddha
Yang Berkembang Disini Adalah Mahayana. I-Tsing Menjelaskan Dalam
Bukunya. Agama Buddha Dipeluk Diseluruh Negri Ini Dan Kebanyakan Sistem
Yang Diadopsi Adalah Hinayana, Kecuali Di Melayu Dimana Ada Sedikit Yang
Mengadopsi Mahayana. Sudah Banyak Diketahui Umum Bahwa Literatur Agama
Buddha Berbahasa Sanskrit Tidak Melulu Berarti Mahayana.
Inilah
Bentuk Agama Buddha Yang Mencapai Kepulauan Di Laut Selatan. I-Tsing
Mengatakan Di Kepulauan Di Laut Selatan, Mulasarvastivadanikayo Hampir
Secara Universal Di Adaptasi. I-Tsing Tampaknya Tidak Mempermasalahkan
Perbedaan Antara Penganut Hinayana Dan Mahayana. Dikatakannya :
Mereka
Yang Menyembah Bodhisatta Dan Membaca Sutra Mahayana Disebut Penganut
Mahayana. Sementara Yang Tidak Disebut Penganut Hinayana. Kedua Sistem
Ini Sesuai Dengan Ajaran Dhamma.
Dapatkah Kita Katakan Mana Yang
Benar? Keduanya Mengajarkan Kebajikan Dan Membimbing Kita Ke Nirvana.
Keduanya Menuju Kepada Pemusnahan Nafsu Dan Penyelamatan Semua Mahluk
Hidup. Kita Tidak Boleh Mempersoalkan Perbedaan Ini. Membuat Keraguan
Yang Malah Akan Membuat Kebingungan. Dari Karya-Karyanya Dapat Dikatakan
Bahwa I-Tsing Tidaklah Terlalu Dalam Bergelut Dalam Masalah Filosofi
Buddhis Tetapi Hanya Tertarik Pada Kehidupan Biarawan Dan Tugas-Tugas
Yang Diemban Oleh Mereka. Dengan Kata Lain, Ia Memberikan Seluruh
Waktunya Untuk Belajar Vinnaya Dan Kehidupan Biarawan
Sebagai Pusat
Kerajaan, Kondisi Palembang Ketika Itu Bersifat Mendesa [ Rural ], Tidak
Seperti Pusat-Pusat Kerajaan Lain Yang Ditemukan Di Wilayah Asia
Tenggara Daratan, Seperti Di Thailand, Kamboja, Dan Myanmar. Bahan Utama
Yang Dipakai Untuk Membuat Bangunan Di Pusat Kota Kerajaan Sriwijaya
Adalah Kayu Atau Bambu Yang Mudah Didapatkan Di Sekitarnya. Oleh Karena
Bahan Itu Mudah Rusak Termakan Zaman, Maka Tidak Ada Sisa Bangunan Yang
Dapat Ditemukan Lagi.
Kalaupun Ada, Sisa Pemukiman Dengan
Konstruksi Kayu Tersebut Hanya Dapat Ditemukan Di Daerah Rawa Atau
Tepian Sungai Yang Terendam Air, Bukan Di Pusat Kota, Seperti Di Situs
Ujung Plancu, Kabupaten Batanghari, Jambi. Memang Ada Bangunan Yang
Dibuat Dari Bahan Bata Atau Batu, Tapi Hanya Bangunan Sakral [ Keagamaan
], Seperti Yang Ditemukan Di Palembang, Di Situs Gedingsuro, Candi
Angsoka, Dan Bukit Siguntang, Yang Terbuat Dari Bata. Sayang Sekali,
Sisa Bangunan Yang Ditemukan Tersebut Hanya Bagian Pondasinya Saja.
Seiring
Perkembangan, Semakin Banyak Ditemukan Data Sejarah Berkenaan Dengan
Kerajaan Sriwijaya. Selain Prasasti Kota Kapur, Juga Ditemukan Prasasti
Karang Berahi [ Ditemukan Tahun 1904 M ], Telaga Batu [ Ditemukan Tahun
1918 M ], Kedukan Bukit [ Ditemukan Tahun 1920 M ] Talang Tuo [
Ditemukan Tahun 1920 M ] Dan Boom Baru.
Di Antara Prasasti Di
Atas, Prasasti Kota Kapur Merupakan Yang Paling Tua, Bertarikh 682 M,
Menceritakan Tentang Kisah Perjalanan Suci Dapunta Hyang Dari Minanga
Dengan Perahu, Bersama Dua Laksa [ 20.000 ] Tentara Dan 200 Peti
Perbekalan, Serta 1.213 Tentara Yang Berjalan Kaki. Perjalanan Ini
Berakhir Di Mukha-P. Di Tempat Tersebut, Dapunta Hyang Kemudian
Mendirikan Wanua [ Perkampungan ] Yang Diberi Nama Kerajaan Sriwijaya.
Dalam
Prasasti Talang Tuo Yang Bertarikh 684 M, Disebutkan Mengenai
Pembangunan Taman Oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa Untuk Semua Makhluk,
Yang Diberi Nama Sriksetra. Dalam Taman Tersebut, Terdapat Pohon-Pohon
Yang Buahnya Dapat Dimakan. Data Tersebut Semakin Lengkap Dengan Adanya
Berita Cina Dan Arab. Sumber Cina Yang Paling Sering Dikutip Adalah
Catatan I-Tsing.
Ia Merupakan Seorang Peziarah Budha Dari China
Yang Telah Mengunjungi Kerajaan Sriwijaya Beberapa Kali Dan Sempat
Bermukim Beberapa Lama. Kunjungan I-Sting Pertama Adalah Tahun 671 M.
Dalam Catatannya Disebutkan Bahwa, Saat Itu Terdapat Lebih Dari Seribu
Orang Pendeta Budha Di Kerajaan Sriwijaya. Aturan Dan Upacara Para
Pendeta Budha Tersebut Sama Dengan Aturan Dan Upacara Yang Dilakukan
Oleh Para Pendeta Budha Di India
I-Tsing Tinggal Selama 6 Bulan Di
Kerajaan Sriwijaya Untuk Belajar Bahasa Sansekerta, Setelah Itu, Baru Ia
Berangkat Ke Nalanda, India. Setelah Lama Belajar Di Nalanda, I-Tsing
Kembali Ke Kerajaan Sriwijaya Pada Tahun 685 Dan Tinggal Selama Beberapa
Tahun Untuk Menerjemahkan Teks-Teks Budha Dari Bahasa Sansekerta Ke
Bahasa Cina. Catatan Cina Yang Lain Menyebutkan Tentang Utusan Kerajaan
Sriwijaya Yang Datang Secara Rutin Ke Cina, Yang Terakhir Adalah Tahun
988 M.
Dalam Sumber Lain, Yaitu Catatan Arab, Kerajaan Sriwijaya
Disebut Sribuza. Masudi, Seorang Sejarawan Arab Klasik Menulis Catatan
Tentang Kerajaan Sriwijaya Pada Tahun 955 M. Dalam Catatan Itu,
Digambarkan Kerajaan Sriwijaya Merupakan Sebuah Kerajaan Besar, Dengan
Tentara Yang Sangat Banyak.
Hasil Bumi Kerajaan Sriwijaya Adalah
Kapur Barus, Kayu Gaharu, Cengkeh, Kayu Cendana, Pala, Kardamunggu,
Gambir Dan Beberapa Hasil Bumi Lainya. Dari Catatan Asing Tersebut, Bisa
Diketahui Bahwa Kerajaan Sriwijaya Merupakan Kerajaan Besar Pada
Masanya, Dengan Wilayah Dan Relasi Dagang Yang Luas Sampai Ke
Madagaskar.
Sejumlah Bukti Lain Berupa Arca, Stupika, Maupun
Prasasti Lainnya Semakin Menegaskan Bahwa, Pada Masanya Kerajaan
Sriwijaya Adalah Kerajaan Yang Mempunyai Komunikasi Yang Baik Dengan
Para Saudagar Dan Pendeta Di Cina, India Dan Arab. Hal Ini Hanya Mungkin
Bisa Dilakukan Oleh Sebuah Kerajaan Yang Besar, Berpengaruh, Dan
Diperhitungkan Di Kawasannya.
Seperti Dikemukakan Diatas, Di
Sumatra Dan Jawa Lebih Berkembang Hinayana. I-Tsing Menceritakan Bahwa
Di Melayu, Ditengah-Tengah Pesisir Timur Sumatra Ada Pula Yang Menganut
Mahayana. Dari Sumber Lain Dijelaskan Bahwa Sebelum Kedatangan I-Tsing,
Telah Datang Biksu Dari India Dharmapala, Ke Melayu Dan Menyebarkan
Aliran Mahayana.
Awal Abad Ke-20, Dua Prasasti Ditemukan Di Dekat
Palembang Yang Bercorak Mahayana. Prasasti Lain Yang Dibuat Tahun 775,
Ditemukan Di Viengsa, Semenanjung Melayu Mengemukakan Bahwa Salah Satu
Raja Kerajaan Sriwijaya Dari Keturunan Syailendra - Yang Tidak Cuma
Memerintah Di Selatan Sumatra Tapi Juga Dibagian Selatan Semenanjung
Melayu - Memerintahkan Pembangunan Tiga Stupa. Ketiga Stupa Tersebut
Dipersembahkan Kepada Buddha, Bodhisatwa Avalokitesvara Dan Vajrapani.
Dan Ditempat Lain Ditemukan Plat Emas Yang Bertuliskan Beberapa Nama
Dyani Buddha, Yang Jelas-Jelas Merupakan Aliran Mahayana.
Dari
Berita I-Tsing Itu Selanjutnya Kita Dapat Mengambil Kesimpulan Bahwa
Pada Waktu Itu Kerajaan Sriwijaya Menjadi Pusat Agama Buddha. Disana
Terdapat Sebuah Perguruan Tinggi Buddha Yang Tidak Kalah Dengan
Perguruan Yang Ada Di Nalanda India. Ada Lebih Dari 1000 Biksu Yang
Ajaran Serta Tata Upacaranya Sama Dengan Yang Ada Di India.
Kecuali
Pengikut Hinayana, Di Kerajaan Sriwijaya Juga Terdapat Pengikut
Mahayana. Bahkan Ada Guru Mahayana Yang Mengajar Disitu. Dari Berita Ini
Jelas Bahwa Kerajaan Sriwijaya Adalah Pusat Agama Buddha Mahayana, Yang
Terbuka Bagi Gagasan Baru Dan Yang Juga Senang Mengadakan Pekerjaan
Ilmiah. Oleh Karena Itu Musafir China Yang Ingin Belajar Di India Pasti
Singgah Di Kerajaan Sriwijaya Untuk Mengadakan Persiapan. Hal Itu Juga
Dilakukan Oleh I-Tsing Sendiri.
BUKTI PALEMBANG PUSAT KERAJAAN SRIWIJAYAPada
Tahun 1913 M, Kern Telah Menerbitkan Tulisan Tentang Prasasti Kota
Kapur, Sebuah Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Yang Ditemukan Di
Pulau Bangka. Namun Saat Itu, Kern Masih Menganggap Nama Kerajaan
Sriwijaya Yang Tercantum Pada Prasasti Tersebut Sebagai Nama Seorang
Raja, Karena Cri Biasanya Digunakan Sebagai Sebutan Atau Gelar Raja.
George
Coedes Dalam Tulisannya Mengenai Kerajaan Sriwijaya Berjudul Le Royaume
De Crivijaya Pada Tahun 1918 M, Menetapkan Bahwa, Kerajaan Sriwijaya
Adalah Nama Sebuah Kerajaan Di Sumatera Selatan.
Sarjana Jepang
Takakusu Menerjemahkan Karya I-Tsing, Nan-Hai-Chi-Kuei-Nai Fa-Chan Ke
Dalam Bahasa Inggris Dengan Judul A Record Of The Budhist Religion As
Practised In India And The Malay Archipelago. Namun, Dalam Buku Tersebut
Tidak Terdapat Nama Kerajaan Sriwijaya, Yang Ada Hanya Shih-Li-Fo-Shih.
Dari Terjemahan Prasasti Kota Kapur Yang Memuat Nama Kerajaan Sriwijaya
Dan Karya I-Tsing Yang Memuat Nama Shih-Li-Fo-Shih, Coedes Kemudian
Menetapkan Bahwa, Kerajaan Sriwijaya Adalah Nama Sebuah Kerajaan Di
Sumatera Selatan.
Lebih Lanjut, Coedes Juga Menetapkan Bahwa,
Letak Ibukota Kerajaan Sriwijaya Adalah Palembang, Dengan Bersandar Pada
Anggapan Groeneveldt Dalam Karangannya, Notes On The Malay Archipelago
And Malacca, Compiled From Chinese Source, Yang Menyatakan Bahwa,
San-Fo-Tsi Adalah Palembang. Sumber Lain, Yaitu Beal Mengemukakan
Pendapatnya Pada Tahun 1886 Bahwa, Shih-Li-Fo-Shih Merupakan Suatu
Daerah Yang Terletak Di Tepi Sungai Musi, Dekat Kota Palembang Sekarang.
Dari Pendapat Ini, Kemudian Muncul Suatu Kecenderungan Di Kalangan
Sejarawan Untuk Menganggap Palembang Sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya.
Sumber
Lain Yang Mendukung Keberadaan Palembang Sebagai Pusat Kerajaan
Sriwijaya Adalah Prasasti Telaga Batu. Prasasti Ini Berbentuk Batu
Lempeng Mendekati Segi Lima, Di Atasnya Ada Tujuh Kepala Ular Kobra,
Dengan Sebentuk Mangkuk Kecil Dengan Cerat [ Mulut Kecil Tempat Keluar
Air ] Di Bawahnya. Menurut Para Arkeolog, Prasasti Ini Digunakan Untuk
Pelaksanaan Upacara Sumpah Kesetiaan Dan Kepatuhan Para Calon Pejabat Di
Kerajaan Sriwijaya. Dalam Prosesi Itu, Pejabat Yang Disumpah Meminum
Air Yang Dialirkan Ke Batu Dan Keluar Melalui Cerat Tersebut. Sebagai
Sarana Untuk Upacara Persumpahan, Prasasti Seperti Itu Biasanya
Ditempatkan Di Pusat Kerajaan. Karena Ditemukan Di Sekitar Palembang
Pada Tahun 1918 M, Maka Diduga Kuat Palembang Merupakan Pusat Kerajaan
Sriwijaya.
Petunjuk Lain Yang Menyatakan Bahwa Palembang
Merupakan Pusat Kerajaan Sriwijaya Juga Diperoleh Dari Hasil Temuan
Barang-Barang Keramik Dan Tembikar Di Situs Talang Kikim, Tanjung Rawa,
Bukit Siguntang Dan Kambang Unglen, Semuanya Di Daerah Palembang.
Keramik Dan Tembikar Tersebut Merupakan Alat Yang Digunakan Dalam
Kehidupan Sehari-Hari. Temuan Ini Menunjukkan Bahwa, Pada Masa Dulu, Di
Palembang Terdapat Pemukiman Kuno. Dugaan Ini Semakin Kuat Dengan Hasil
Interpretasi Foto Udara Di Daerah Sebelah Barat Kota Palembang, Yang
Menggambarkan Bentuk-Bentuk Kolam Dan Kanal. Kolam Dan Kanal-Kanal Yang
Bentuknya Teratur Itu Kemungkinan Besar Buatan Manusia, Bukan Hasil Dari
Proses Alami. Dari Hasil Temuan Keramik Dan Kanal-Kanal Ini, Maka
Dugaan Para Arkeolog Bahwa Palembang Merupakan Pusat Kerajaan Sriwijaya
Semakin Kuat.
BENDA PENINGGALAN KERAJAAN SRIWIJAYA
Peninggalan
Kerajaan Sriwijaya Diantaranya Adalah Prasasti Kota Kapur, Sebuah
Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Yang Ditemukan Di Pulau Bangka.
Kern Telah Menerbitkan Tulisan Tentang Prasasti Kota Kapur, Namun Saat
Itu, Kern Masih Menganggap Nama Kerajaan Sriwijaya Yang Tercantum Pada
Prasasti Tersebut Sebagai Nama Seorang Raja, Karena Cri Biasanya
Digunakan Sebagai Sebutan Atau Gelar Raja.
Peninggalan Kerajaan
Sriwijaya Yang Lain Adalah Prasasti Telaga Batu. Prasasti Telaga Batu
Berbentuk Batu Lempeng Mendekati Segi Lima, Di Atasnya Ada Tujuh Kepala
Ular Kobra, Dengan Sebentuk Mangkuk Kecil Dengan Cerat [ Mulut Kecil
Tempat Keluar Air ] Di Bawahnya. Menurut Para Arkeolog, Prasasti Ini
Digunakan Untuk Pelaksanaan Upacara Sumpah Kesetiaan Dan Kepatuhan Para
Calon Pejabat Di Kerajaan Sriwijaya. Dalam Prosesi Itu, Pejabat Yang
Disumpah Meminum Air Yang Dialirkan Ke Batu Dan Keluar Melalui Cerat
Tersebut. Sebagai Sarana Untuk Upacara Persumpahan, Prasasti Seperti Itu
Biasanya Ditempatkan Di Pusat Kerajaan. Karena Ditemukan Di Sekitar
Palembang Pada Tahun 1918 M, Maka Diduga Kuat Palembang Merupakan Pusat
Kerajaan Sriwijaya.
Masih Ada Lagi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Lainnya, Yaitu Barang-Barang Keramik Dan Tembikar. Peninggalan Berupa
Barang-Barang Keramik Dan Tembikar Ini Ditemukan Di Situs Talang Kikim,
Tanjung Rawa, Bukit Siguntang Dan Kambang Unglen. Kesemuanya Di Daerah
Palembang. Keramik Dan Tembikar Tersebut Merupakan Alat Yang Digunakan
Dalam Kehidupan Sehari-Hari. Temuan Ini Menunjukkan Bahwa, Pada Masa
Dulu, Di Palembang Terdapat Pemukiman Kuno. Dugaan Ini Semakin Kuat
Dengan Hasil Interpretasi Foto Udara Di Daerah Sebelah Barat Kota
Palembang, Yang Menggambarkan Bentuk-Bentuk Kolam Dan Kanal. Kolam Dan
Kanal-Kanal Yang Bentuknya Teratur Itu Kemungkinan Besar Buatan Manusia,
Bukan Hasil Dari Proses Alami.
Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Berupa Prasasti Selain Prasasti Kota Kapur Adalah Prasasti Karang Berahi
[ Ditemukan Tahun 1904 M ], Prasasti Telaga Batu [ Ditemukan Tahun 1918
M ], Prasasti Kedukan Bukit [ Ditemukan Tahun 1920 M ], Prasasti Talang
Tuo [ Ditemukan Tahun 1920 M ] Dan Boom Baru. Di Antara Prasasti Di
Atas, Prasasti Kota Kapur Merupakan Yang Paling Tua, Berangka Tahun 682
M, Menceritakan Tentang Kisah Perjalanan Suci Dapunta Hyang Dari Minanga
Dengan Perahu, Bersama Dua Laksa [ 20.000 ] Tentara Dan 200 Peti
Perbekalan, Serta 1.213 Tentara Yang Berjalan Kaki. Perjalanan Ini
Berakhir Di Mukha-P. Di Tempat Tersebut, Dapunta Hyang Kemudian
Mendirikan Wanua [ Perkampungan ] Yang Diberi Nama Sriwijaya.
Dalam
Prasasti Talang Tuo Yang Bertarikh 684 M, Disebutkan Mengenai
Pembangunan Taman Oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa Untuk Semua Makhluk,
Yang Diberi Nama Sriksetra. Dalam Taman Tersebut, Terdapat Pohon-Pohon
Yang Buahnya Dapat Dimakan.
Dari Prasasti Kota Kapur Yang
Ditemukan JK Van Der Meulen Di Pulau Bangka Pada Bulan Desember 1892 M,
Diperoleh Petunjuk Mengenai Kerajaan Sriwijaya Yang Sedang Berusaha
Menaklukkan Bumi Jawa. Meskipun Tidak Dijelaskan Wilayah Mana Yang
Dimaksud Dengan Bhumi Jawa Dalam Prasasti Itu, Beberapa Arkeolog
Meyakini, Yang Dimaksud Bhumi Jawa Itu Adalah Kerajaan Tarumanegara Di
Pantai Utara Jawa Barat. Selain Dari Isi Prasasti, Wilayah Kekuasaan
Kerajaan Sriwijaya Juga Bisa Diketahui Dari Persebaran Lokasi
Prasasti-Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Tersebut. Di Daerah
Lampung Ditemukan Prasasti Palas Pasemah, Di Jambi Ada Karang Berahi, Di
Bangka Ada Kota Kapur, Di Riau Ada Muara Takus. Semua Ini Menunjukkan
Bahwa, Daerah-Daerah Tersebut Pernah Dikuasai Kerajaan Sriwijaya. Sumber
Lain Ada Yang Mengatakan Bahwa, Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya Sebenarnya
Mencapai Philipina. Ini Merupakan Bukti Bahwa, Kerajaan Sriwijaya
Pernah Menguasai Sebagian Besar Wilayah Nusantara.
Dalam
Relasinya Dengan India, Raja-Raja Kerajaan Sriwijaya Bukan Saja
Membangun Prasasti Di Wilayah Kerajaan Sriwijaya, Tetapi Juga Membangun
Bangunan Suci Agama Budha Di India. Fakta Ini Tercantum Dalam Dua Buah
Prasasti, Yaitu Prasasti Raja Dewapaladewa Dari Nalanda, Yang
Diperkirakan Berasal Dari Abad Ke-9 M, Dan Prasasti Raja Rajaraja I Yang
Berangka Tahun 1044 M Dan 1046 M. Prasasti Prasasti Raja Dewapaladewa
Dari Nalanda Menyebutkan Tentang Raja Balaputradewa Dari Suwarnadwipa [
Kerajaan Sriwijaya ] Yang Membangun Sebuah Biara. Sementara Prasasti
Raja Rajaraja I Menyebutkan Tentang Raja Kataha Dan Kerajaan Sriwijaya,
Marawijayayottunggawarman Yang Memberi Hadiah Sebuah Desa Untuk
Dipersembahkan Kepada Sang Buddha Yang Berada Dalam Biara Cudamaniwarna,
Nagipattana, India.
CATATAN TENTANG KERAJAAN SRIWIJAYA
Salah
Satu Catatan Tentang Kerajaan Sriwijaya Adalah Catatan Perjalanan
I-Tsing. Dalam Catatan I-Tsing Ini Disebutkan Bahwa, Pada Saat Itu, Di
Kerajaan Sriwijaya Terdapat Seribu Pendeta. Dalam Perjalanan Pertamanya,
I-Tsing Sempat Bermukim Selama Enam Bulan Di Kerajaan Sriwijaya Untuk
Mendalami Bahasa Sansekerta. I-Tsing Juga Menganjurkan, Jika Seorang
Pendeta Cina Ingin Belajar Ke India, Sebaiknya Belajar Dulu Setahun Atau
Dua Tahun Di Fo-Shih [ Palembang ], Baru Kemudian Belajar Di India.
Sepulangnya
Dari Nalanda, I-Tsing Menetap Di Kerajaan Sriwijaya Selama Tujuh Tahun [
688-695 M ] Dan Menghasilkan Dua Karya Besar Yaitu Ta T'Ang
Si-Yu-Ku-Fa-Kao-Seng-Chuan Dan Nan-Hai-Chi-Kuei-Nei-Fa-Chuan [ A Record
Of The Budhist Religion As Practised In India And The Malay Archipelago ]
Yang Selesai Ditulis Pada Tahun 692 M. Ini Menunjukkan Bahwa, Kerajaan
Sriwijaya Merupakan Salah Satu Pusat Agama Budha Yang Penting Pada Saat
Itu.
Selain Itu, Hal Penting Lain Yang Juga Termuat Dalam Catatan
I-Tsing, Adalah Ketertarikan Utamanya Adalah Pada " Rumah Agama Buddha "
India Utara Dimana I-Tsing Tinggal Dan Belajar Disana Selama Lebih Dari
Sepuluh Tahun. Dari Catatannya Dapat Dikatakan Bahwa Agama Buddha Di
India Dan Sumatra Mempunyai Banyak Kesamaan, Dimana I-Tsing Juga
Menemukan Perbedaan Antara Agama Buddha Di China Dan Di India. I-Tsing
Menghabiskan Waktunya Hidup Sendirian Sebagai Biksu Di India Dan
Sumatra.
Dalam Catatannya Disebutkan Bahwa, Saat Itu Terdapat
Lebih Dari Seribu Orang Pendeta Budha Di Kerajaan Sriwijaya. Aturan Dan
Upacara Para Pendeta Budha Tersebut Sama Dengan Aturan Dan Upacara Yang
Dilakukan Oleh Para Pendeta Budha Di India. I-Tsing Tinggal Selama 6
Bulan Di Kerajaan Sriwijaya Untuk Belajar Bahasa Sansekerta, Setelah
Itu, Baru Ia Berangkat Ke Nalanda, India. Setelah Lama Belajar Di
Nalanda, I-Tsing Kembali Ke Kerajaan Sriwijaya Pada Tahun 685 Dan
Tinggal Selama Beberapa Tahun Untuk Menerjemahkan Teks-Teks Budha Dari
Bahasa Sansekerta Ke Bahasa Cina. Seluruh Bukunya Merupakan Catatan
Lengkap Tentang Kehidupan Biarawan. Ia Tinggal Di India Seluruhnya
Berdasarkan Peraturan Vinnaya.
Catatan Lainnya Tentang Kerajaan
Sriwijaya Adalah Karangan George Coedes. Dalam Catatan George Coedes
Tersebut, Ia Menulis Karangannya Mengenai Kerajaan Sriwijaya Yang "
Berjudul Le Royaume De Crivijaya " Pada Tahun 1918 M.
Catatan
Lain Tentang Kerajaan Sriwijaya Adalah Catatan Kern. Lima Tahun Sebelum
George Coedes Menyelesaikan Karangannya, Yaitu Pada Tahun 1913 M, Kern
Telah Menerbitkan Tulisan Tentang Prasasti Kota Kapur, Sebuah Prasasti
Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Yang Ditemukan Di Pulau Bangka. Namun
Saat Itu, Kern Masih Menganggap Nama Kerajaan Sriwijaya Yang Tercantum
Pada Prasasti Tersebut Sebagai Nama Seorang Raja, Karena Cri Biasanya
Digunakan Sebagai Sebutan Atau Gelar Raja.
Disamping Catatan Ada
Juga Karya Terjemahan Tentang Kerajaan Sriwijaya. Pada Tahun 1896 M,
Sarjana Jepang Takakusu Menerjemahkan Karya I-Tsing,
Nan-Hai-Chi-Kuei-Nai Fa-Chan Ke Dalam Bahasa Inggris Dengan Judul [ A
Record Of The Budhist Religion As Practised In India And The Malay
Archipelago ]. Namun, Dalam Buku Tersebut Tidak Terdapat Nama Kerajaan
Sriwijaya, Yang Ada Hanya Shih-Li-Fo-Shih.
Dari Terjemahan
Prasasti Kota Kapur Yang Memuat Nama Kerajaan Sriwijaya Dan Karya
I-Tsing Yang Memuat Nama Shih-Li-Fo-Shih, Coedes Kemudian Menetapkan
Bahwa, Kerajaan Sriwijaya Adalah Nama Sebuah Kerajaan Di Sumatera
Selatan.
Sumber Catatan Lain Tentang Kerajaan Sriwijaya, Yaitu
Catatan Seorang Sejarawan Arab, Kerajaan Sriwijaya Disebut Sribuza.
Masudi, Seorang Sejarawan Arab Klasik Menulis Catatan Tentang Kerajaan
Sriwijaya Pada Tahun 955 M. Dalam Catatan Itu, Digambarkan Kerajaan
Sriwijaya Merupakan Sebuah Kerajaan Besar, Dengan Tentara Yang Sangat
Banyak. Hasil Bumi Kerajaan Sriwijaya Adalah Kapur Barus, Kayu Gaharu,
Cengkeh, Kayu Cendana, Pala, Kardamunggu, Gambir Dan Beberapa Hasil Bumi
Lainya.
Dari Catatan Asing Tersebut, Bisa Diketahui Bahwa
Kerajaan Sriwijaya Merupakan Kerajaan Besar Pada Masanya, Dengan Wilayah
Dan Relasi Dagang Yang Luas Sampai Ke Madagaskar. Sejumlah Bukti Lain
Berupa Arca, Stupika, Maupun Prasasti Lainnya Semakin Menegaskan Bahwa,
Pada Masanya Kerajaan Sriwijaya Adalah Kerajaan Yang Mempunyai
Komunikasi Yang Baik Dengan Para Saudagar Dan Pendeta Di Cina, India Dan
Arab. Hal Ini Hanya Mungkin Bisa Dilakukan Oleh Sebuah Kerajaan Yang
Besar, Berpengaruh, Dan Diperhitungkan Di Kawasannya.
RANGKUMAN TENTANG KERAJAAN SRIWIJAYA
CARA MEMPERLUAS KEKUASAAN KERAJAAN SRIWIJAYA
Salah
Satu Cara Untuk Memperluas Pengaruh Kerajaan Sriwijaya Adalah Dengan
Melakukan Perkawinan Dengan Kerajaan Lain. Hal Ini Juga Dilakukan Oleh
Penguasa Kerajaan Sriwijaya. Dapunta Hyang Yang Berkuasa Sejak 664 M,
Melakukan Pernikahan Dengan Sobakancana, Putri Kedua Raja Kerajaan
Tarumanegara, Linggawarman. Perkawinan Ini Melahirkan Seorang Putra Yang
Menjadi Raja Kerajaan Sriwijaya Berikutnya: Dharma Setu. Dharma Setu
Kemudian Memiliki Putri Yang Bernama Dewi Tara. Putri Ini Kemudian Ia
Nikahkan Dengan Samaratungga, Raja Kerajaan Mataram Kuno Dari Dinasti
Syailendra. Dari Pernikahan Dewi Setu Dengan Samaratungga, Kemudian
Lahir Bala Putra Dewa Yang Menjadi Raja Di Kerajaan Sriwijaya Dari 833
Hingga 856 M.
SILSILAH RAJA DI KERAJAAN SRIWIJAYA
Berikut Ini Daftar Silsilah Para Raja Kerajaan Sriwijaya :
Dapunta Hyang Sri Yayanaga [ Prasasti Kedukan Bukit 683, Talang Tuo, 684 ].
1. Cri Indrawarman [ Berita Cina, Tahun 724 ].
2. Rudrawikrama [ Berita Cina, Tahun 728, 742 ].
3. Wishnu [ Prasasti Ligor, 775 ].
4. Maharaja [ Berita Arab, Tahun 851 ].
5. Balaputradewa [ Prasasti Nalanda, 860 ].
6. Cri Udayadityawarman [ Berita Cina, Tahun 960 ].
7. Cri Udayaditya [ Berita Cina, Tahun 962 ].
8. Cri Cudamaniwarmadewa [ Berita Cina, Tahun 1003, Prasasti Leiden, 1044.
9. Maraviyayatunggawarman [ Prasasti Leiden, 1044 ].
10. Cri Sanggaramawijayatunggawarman [ Prasasti Chola, 1044 ].
MASA KEJAYAAN KERAJAAN SRIWIJAYA
Kerajaan
Sriwijaya Berkuasa Dari Abad Ke-7 Hingga Awal Abad Ke-13 M, Dan
Kerajaan Sriwijaya Mencapai Zaman Keemasan Di Jaman Pemerintahan
Balaputra Dewa [ 833-856 M ]. Kemunduran Kerajaan Sriwijaya Ini
Berkaitan Dengan Masuk Dan Berkembangnya Agama Islam Di Sumatera, Dan
Munculnya Kekuatan Singosari Dan Majapahit Sebagai Kekuatan Tandingan Di
Pulau Jawa. Dalam Sejarah Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Sriwijaya
Menguasai Bagian Barat Nusantara. Salah Satu Faktor Yang Menyebabkan
Kerajaan Sriwijaya Bisa Menguasai Seluruh Bagian Barat Nusantara Adalah
Runtuhnya Kerajaan Fu-Nan Di Indocina. Sebelumnya, Fu-Nan Adalah
Satu-Satunya Pemegang Kendali Di Wilayah Perairan Selat Malaka. Faktor
Lainnya Adalah Kekuatan Armada Laut Kerajaan Sriwijaya Yang Mampu
Menguasai Jalur Lalu Lintas Perdagangan Antara India Dan Cina. Dengan
Kekuatan Armada Yang Besar, Kerajaan Sriwijaya Kemudian Melakukan
Ekspansi Wilayah Hingga Ke Pulau Jawa. Dalam Sumber Lain Dikatakan
Bahwa, Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya Sampai Ke Brunei Dan Di Pulau
Borneo.
PENYEBAB KERUNTUHAN KERAJAAN SRIWIJAYA
Pada
Abad Ke-11 M, Kerajaan Sriwijaya Mulai Mengalami Kemunduran. Pada Tahun
1006 M, Kerajaan Sriwijaya Diserang Oleh Dharmawangsa Dari Jawa Timur.
Serangan Ini Berhasil Dipukul Mundur, Bahkan Kerajaan Sriwijaya Mampu
Melakukan Serangan Balasan Dan Berhasil Menghancurkan Kerajaan
Dharmawangsa. Pada Tahun 1025 M, Kerajaan Sriwijaya Mendapat Serangan
Yang Melumpuhkan Dari Kerajaan Cola, India. Walaupun Demikian, Serangan
Tersebut Belum Mampu Melenyapkan Kerajaan Sriwijaya Dari Muka Bumi.
Hingga Awal Abad Ke-13 M, Kerajaan Sriwijaya Masih Tetap Berdiri,
Walaupun Kekuatan Dan Pengaruhnya Sudah Sangat Jauh Berkurang.
POLA DAN SYSTEM PEMERINTAHAN DI KERAJAAN SRIWIJAYA
Dari
Prasasti Kota Kapur Yang Ditemukan JK Van Der Meulen Di Pulau Bangka
Pada Bulan Desember 1892 M, Diperoleh Petunjuk Mengenai Kerajaan
Sriwijaya Yang Sedang Berusaha Menaklukkan Bumi Jawa. Meskipun Tidak
Dijelaskan Wilayah Mana Yang Dimaksud Dengan Bhumi Jawa Dalam Prasasti
Itu, Beberapa Arkeolog Meyakini, Yang Dimaksud Bhumi Jawa Itu Adalah
Kerajaan Tarumanegara Di Pantai Utara Jawa Barat. Selain Dari Isi
Prasasti, Wilayah Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya Juga Bisa Diketahui Dari
Persebaran Lokasi Prasasti-Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Tersebut. Di Daerah Lampung Ditemukan Prasasti Palas Pasemah, Di Jambi
Ada Karang Berahi, Di Bangka Ada Kota Kapur, Di Riau Ada Muara Takus.
Semua Ini Menunjukkan Bahwa, Daerah-Daerah Tersebut Pernah Dikuasai
Kerajaan Sriwijaya. Sumber Lain Ada Yang Mengatakan Bahwa, Kekuasaan
Kerajaan Sriwijaya Sebenarnya Mencapai Philipina. Ini Merupakan Bukti
Bahwa, Kerajaan Sriwijaya Pernah Menguasai Sebagian Besar Wilayah
Nusantara.
Kekuasaan Tertinggi Di Kerajaan Sriwijaya Dipegang Oleh Raja. Untuk Menjadi Raja, Ada Tiga Persyaratan Yaitu :
1. Samraj, Artinya Berdaulat Atas Rakyatnya.
2. Indratvam, Artinya Memerintah Seperti Dewa Indra Yang Selalu Memberikan Kesejahteraan Pada Rakyatnya.
3.
Ekachattra. Eka Berarti Satu Dan Chattra Berarti Payung. Kata Ini
Bermakna Mampu Memayungi [ Melindungi ] Seluruh Rakyatnya. Penyamaan
Raja Dengan Dewa Indra Menunjukkan Raja Di Kerajaan Sriwijaya Memiliki
Kekuasaan Yang Bersifat Transenden. Belum Diketahui Secara Jelas
Bagaimana Struktur Pemerintahan Di Bawah Raja. Salah Satu Pembantunya
Yang Disebut Secara Jelas Hanya Senapati Yang Bertugas Sebagai Panglima
Perang.
Di Bidang Perdagangan, Kerajaan Sriwijaya Mempunyai
Hubungan Perdagangan Yang Sangat Baik Dengan Saudagar Dari Cina, India,
Arab Dan Madagaskar. Hal Itu Bisa Dipastikan Dari Temuan Mata Uang Cina,
Mulai Dari Periode Dinasti Song [ 960-1279 M ] Sampai Dinasti Ming [
Abad 14-17 M ]. Berkaitan Dengan Komoditas Yang Diperdagangkan, Berita
Arab Dari Ibn Al-Fakih [ 902 M ], Abu Zayd [ 916 M ] Dan Mas'Udi [ 955 M
] Menyebutkan Beberapa Di Antaranya, Yaitu Cengkeh, Pala, Kapulaga,
Lada, Pinang, Kayu Gaharu, Kayu Cendana, Kapur Barus, Gading, Timah,
Emas, Perak, Kayu Hitam, Kayu Sapan, Rempah-Rempah, Dan Penyu.
Barang-Barang Ini Dibeli Oleh Pedagang Asing, Atau Dibarter Dengan
Porselen, Kain Katun Dan Kain Sutra.