Jumat, 27 Juli 2012

ganti theme blog

Cara Mengganti Template Blogspot - Blogger (Versi Baru)

Sebenarnya tutorial cara mengganti template blogspot sudah pernah saya tuliskan, namun karena sekarang tampilan dashboard blogger berubah akhirnya saya putuskan untuk menuliskan cara baru mengganti template blogspot.

Cara ini khusus untuk mereka yang sudah menggunakan tampilan dashboard yang baru dan panduan mengganti template blogger ini sudah saya sertakan gambarnya agar lebih jelas, jika tampilan dashboard bloggernya masih belum di update menggunakan tampilan yang baru silakan baca Cara Mengganti Template Blogger (Versi Lama).
Next ...

Cara Mengganti Template Blogspot - Blogger (Versi Baru) Setelah Template Di Download

Sama halnya dengan panduan mengganti template blogger (versi lama). Untuk mengganti template blog blogger teman-teman harus mendownload template blogger gratis dulu, jika belum memilikinya silakan download template blogger gratis di sini.

Setelah template blogger gratis sudah didownload, silakan lihat dulu blogger template yang baru didownload tadi, apakah berkasnya berbentuk file zip/rar atau berbentuk xml (jika file blogger template sudah dalam bentuk xml silakan langsung diupload ke blogger/blogspot)
Mengganti Template Blogspot

Cara Mengganti Template Blogger (Versi Baru)

Jika template masih berbentuk Zip/Rar sialakan di Extract dulu. Caranya : klik kanan, kemudian pilih Extract Here.
Panduan Mengganti Template Blogspot - Blogger (Versi Baru)

Jika Template Blogger sudah di extract silakan upload file xml nya.

Langkah – Langkah Mengganti Template Blogspot/Blogger (Versi Terbaru)

Berikut panduan upload template blogger setelah di download dan diextract

1. Login ke dashboard blogger

2. Silakan pergi kebagian Template dengan cara mengklik menu Template (lihat gambar berikut)
Tutorial Mengganti Template Blogspot

3. Klik tulisan Cadangkan / Pulihkan (menunya ada di sebelah kanan atas)
Cara Mengganti Template Blogspot

Sebelum template diupload sebaiknya download dulu template yang sudah terpasang dengan cara mengklik tulisan Unduh Template Lengkap. Dan jika template sudah selesai di unduh/download silakan upload template yang baru.
Cara Mengganti Template Blogspot - Blogger (Versi Baru)

Tunggu proses upload sampai selesai, jika sudah selesai silakan lihat perubahan blog teman.

Oh ia ... biasanya setelah template baru terpasang ada tambahan widget yang mungkin tidak kita inginkan, silakan hapus widget yang tidak di inginkan dan susun kembali penempatannya di tab Tata Letak.
Nah itulah tutorial blog : Tutorial Cara Mengganti Template Blogspot - Blogger (Versi Baru)

typografi

typografi
Tipografi merupakan unsur penting di dalam desain, karena tipografi adalah inti. Tipografi adalah salah satu elemen yang menyampaikan isi dan maksud dari sebuah karya desain. Tidak jarang, desain yang efektif adalah desain yang hanya menggunakan tipografi yang baik tanpa menggunakan elemen visual sama sekali.

Sebegitu pentingnya peran tipografi pada desain yang kita hasilkan, jadi biarpun desain visual kita “wah”, tetapi kalau tipografi nya tidak mudah di baca dan susah di mengerti, maka desain tersebut termasuk gagal. Untuk menghindari itu, berikut 6 tips dasar untuk membuat tipografi lebih menarik, nyaman dan mudah terbaca.

Kerning

Kerning adalah jarak antar huruf. Dan ini merupakan favorit saya, kalau sudah bingung bagaimana membuat judul/kalimat tertentu menjadi lebih menarik, saya biasanya mendempetkan kerning pada judul/kalimat tersebut.
Namun harap di perhatikan, jangan sampai terlalu mendempetkan kerning karena hasilnya judul/tulisan akan susah terbaca dan terasa ‘penuh’. Jadi, gunakanlah teknik ini secukupnya.
tipo_tips_kerning

Pemilihan Font

Pemakaian jenis font yang tepat dapat membantu desain menjadi lebih menyatu dan lebih cepat mengkomunikasikan maksud dari desain. Misalnya, pada desain brosur kecantikan, kita tidak mungkin menggunakan font yang ‘keras’, berbentuk kaku dan tebal. Akan lebih tepat jika kita menggunakan font yang tipis dan luwes, sesuai dengan kepribadian target market yang di tuju, yaitu wanita.
Jenis font bisa di ibaratkan jenis ‘suara’ yang berbicara pada desain. Font dengan gaya tebal akan terasa seperti suara laki-laki dan bersuara berat. Font berbentuk kaku dan kotak-kotak, akan terasa seperti robot atau mesin yang berbicara, dan seterusnya. Masing-masing jenis font mempunyai jenis suara tersendiri.
tipo_tips_pemilihan_font

Berat dan Ukuran

Kita bisa memainkan berat (tebal tipis) dan ukuran (besar kecil) font, untuk memberikan emphasis (elemen mana yang akan di baca atau di tampilkan terlebih dahulu). Sehingga secara tidak langsung pembaca akan di tuntun sesuai dengan flow yang kita mau.
Cara ini juga untuk mencegah pembaca pusing akan bagian mana yang seharusnya di lihat terlebih dahulu. Salah urutan dalam membaca akan mengakibatkan informasi yang kita sebarkan susah di mengerti.
tipo_tips_berat_ukuran

Leading

Leading adalah jarak spasi antara kalimat atas dan bawah dalam satu paragraf. Biasanya elemen ini jarang di utak-atik oleh kebanyakan desainer. Padahal leading yang di atur dengan baik akan membuat pembaca tidak merasa lelah jika mereka membaca suatu artikel yang panjang.
Jarak yang di hasilkan jika kita memainkan leading akan memberikan kesan ruang kosong (whitespace). Yang tentu saja membuat mata tidak cepat lelah saat melihat teks yang begitu banyak.
tipo_tips_leading

Warna

Warna pada font biasanya di sesuaikan dengan background. Jika background berwarna (foto) maka lebih baik menggunakan 1 warna font yang netral (putih misalnya). Yang pasti harus menghasilkan kontras yang cukup, sehingga tetap nyaman di baca dan tidak ‘menusuk’ mata.
tipo_tips_warna
Teman-teman desainer kebanyakan pasti menyukai warna background hitam, namun masalahnya kalau di website, kombinasi background hitam dan teks putih itu akan menghasilkan ‘efek negatif film’ pada mata saat kita selesai membaca.
Akan lebih baik jika warna background di buat tetap gelap, namun tidak hitam 100%, dan berikan warna abu-abu muda pada font. Dengan begitu maka mata tidak akan terlalu lelah dan ‘efek negatif film’ tidak akan ada lagi.
tipo_tips_warna2

Lebar Paragraf

Hal ini sangat penting, karena sangat mempengaruhi kenyamanan membaca. Coba bayangkan paragraf yang lebar di halaman website dengan artikel yang panjang. Kita sampai harus perlu memutar kepala sedikit (dari kiri ke kanan) untuk membaca artikel tersebut. Saya jamin kita hanya akan bertahan 1-2 paragraf saja!
Idealnya paragraf tidak terlalu lebar (dan tidak terlalu pendek), harus di sesuaikan dengan besar font juga. Untuk ini memang kita harus mencoba langsung membaca paragraf yang kita desain untuk menemukan lebar yang ideal. Jika kita masih menggerakan kepala lumayan sering, itu artinya kita harus mengatur kembali lebar paragraf tersebut.
tipo_tips_lebar_paragraf

Kesimpulan

Dengan ke 6 tips di atas semoga kita bisa lebih peka dalam mengatur tipografi (terlebih jika teks nya banyak!). Percayalah, dengan tipografi yang mudah terbaca maka orang juga akan lebih menyukai desain kita. Mulai sekarang anggaplah tipografi sebagai bagian penting dalam desain (atau yang lebih ekstrim, tipografi sebagai visual juga).

Jumat, 06 Juli 2012

SEJARAH PALEMBANG

Menurut catatan sejarah, cerita tentang Kesultanan Palembang muncul melalui proses yang panjang dan berkaitan erat pula dengan kerajaan-kerajaan besar lain, terutama di Pulau Jawa, seperti Kerajaan Majapahit, Demak, pajang dan Mataram.
Raja Majapahit, Prabu Brawijaya yang terakhir memiliki putera bernama Aria Damar atau setelah memeluk Islam disebut Aria Dilah dikirim kembali ke Palembang untuk menjadi penguasa. Di sini ia menikah dengan saudara Demang Lebar Daun yang bernama Puteri Sandang Biduk, dan diangkat menjadi raja (1445-1486). Pada saat Aria Dilah memerintah Palembang, ia mendapat kiriman seorang puteri Cina yang sedang hamil, yakni isteri ayahnya yang diamanatkan kepadanya untuk mengasuh dan merawatnya. Sang puteri ini melahirkan seorang putera di Pulau Seribu, yang diberi nama Raden Fatah atau bergelar Panembahan Palembang, yang kemudian menjadi raja pertama di Demak dan menjadi menantu Sunan Ampel.

Pada saat Raden Fatah menjadi raja Demak I (1478-1518), ia berhasil memperbesar kekuasaannya dan menjadikan Demak kerajaan Islam pertama di Jawa. Akan tetapi, kerajaan Demak tidak dapat bertahan lama karena terjadinya kemelut perang saudara dimana setelah Pangeran Trenggono Sultan Demak III anak Raden Fatah wafat, terjadilah kekacauan dan perebutan kekuasaan antara saudaranya dan anaknya. Saudaranya, mengakibatkan sejumlah bangsawan Demak melarikan diri kembali ke Palembang. 
Rombongan dari Demak yang berjumlah 80 Kepala Keluarga ini diketuai oleh Pangeran Sedo Ing Lautan (1547-1552) menetap di Palembang Lama (1 ilir) yang saat itu Palembang dibawah pimpinan Dipati Karang Widara, keturunan Demang Lebar Daun. Mereka mendirikan Kerajaan Palembang yang bercorak Islam serta mendirikan Istana Kuto Gawang dan Masjid di Candi Laras (PUSRI sekarang). Pengganti Pangeran Sedo Ing Lautan sebagai Raja adalah anaknya, Ki Gede Ing Sura Tuo selama 22 tahun (1552-1573). Oleh karena beliau tidak berputera, maka ia mengangkat keponakannya menjadi penggantinya dengan bergelar pula Ki. Gede Ing Suro Mudo (1573-1590). Setelah wafatnya ia di ganti oleh Kemas Adipati selama 12 tahun. Kemudian digantikan oleh anaknya Den Arya lamanya 1 tahun. Selanjutnya ia diganti oleh Pangeran Ratu Madi Ing Angsoko Jamaluddin Mangkurat I (1596-1629) yang wafat teraniaya di bawah pohon Angsoka. Pengganti selanjutnya ialah adiknya Pangeran Madi Alit Jamaluddin Mangkurat II (1629-1630). Setelah wafat diteruskan pula oleh adiknya yang bernama Pangeran Sedo Ing Puro Jamaluddin Mangkurat III (1630-1639), wafat di Indra laya. Lalu digantikan oleh kemenakannya yang bernama Pangeran Sedo Ing Kenayan Jamaluddin Mangkurat IV (1639-1650) bersama dengan isterinya Ratu Senuhun. Ratu Senuhun inilah yang menyusun "Undang-undang Simbur Cahaya" yang mengatur adat pergaulan bujang gadis, ad at perkawinan, piagam dan lain sebagainya.
Sebagai ganti Pangeran Sido Ing Kenayan ialah Pangeran Sedo Ing Pesarean Jamaluddin Mangkurat V (1651-1652) bin Tumenggung Manca Negara. Tongkat estafet selanjutnya dipegang oleh puteranya yang bernama pangeran Sedo Ing Rejek Jamaluddin Mangkurat VI (1652-1659) sebagai raja Palembang. Beliau raja yang alim dan wara'. Pada masanya ini terjadilah pertempuran pertama dengan Belanda pada tahun 1659 yang mengakibatkan Keraton Kuto Gawang hangus terbakar. Pangeran Sido Ing Rejek menyerahkan kepemimpinannya kepada adiknya, Pangeran Kesumo Abdurrohim Kemas Hindi. Sedangkan ia mengungsi ke Saka Tiga sampai akhir hayatnya dan di sana pula jasadnya dikebumikan.


B. Latar Belakang Terbentuknya Kesultanan Palembang Darussalam


Perang yang Pertama Antara Kerajaan Palembang dan Belanda



KERATON KUTO GAWANG (1659)


Pada tahun 1658 datang diperairan sungai musidi pelimbang kapal-kapal kompeni Belanda dari Batavia (jakarta sekarang) yang dipimpin oleh Cornelisz Oc-kerse. Diantara kapal-kapal itu terdapat dua kapal besar bernama ’Jakarta’ dan ’de Wachter’
          Kedatangan Cornelisz Oc-kerse ke Pelimbang itu adalah dalam rangka memenuhi pelaksanaan kontrak dagang antara kompeni belanda dan kerajaan pelimbang, diantaranya adalah timah putih dan rempah- rempah seperti lada putih dan lada hitam.
          Kito atau keraton pelimbang pada abad ke 16 dan awal abad ke 17 terletak di seberang ilir atau sebelah kiri dari sungai musi dan bernama waktu itu KUTO GAWANG (Pusri Sekarang). Yang kemudian setelah Kuto tersebut berpindah lagi ke tempat yang baru, bernama Kuto Cerancangan pada akhir abad ke 18, maka Kuto Gawang diberi nama PELIMBANG LAMA.
          Keraton Kuto Gawang ini terletak diantara dua sungai yaitu bernama Sungai Buah dan Sungai Linta dan ditengah-tengah kuto tersebut terdapat sungai Rengas.
          Kuto  atau Keraton Kerajaan Pelimbang tersebut panjang dan lebarnya sama yaitu 700 Depa atau k.l. 1100 m lebar, dan dikelilingi oleh tembok atau benteng terbikin dari kayu setinggi 7,25 m, dan terdiri atas balok-balok dari kayu besi atau kayu unglen  (kayu tulen) berukuran 30x30 cm.
Dibelakang benteng kayu ini yang disusun secara rapih sekali dan teratur, terdapat pula tembok dari tanah dimana tersusun meriam-meriam pertahanannya. Dibagian pinggir sungai musi terdapat pula tiga  (BULUARTI) atau anjungan (bastion). Satu diantaranya yang terletak dibagian tengah adalah dibikin dari batu. Ketiga buluarti ini dilengkapi pula dem\ngan alat-alat persenjataannya seperti meriam, lelo, dan lain sebagainya.
          Pintu utama masuk ke dalam kuto ini adalah dari sungai rengas, dan begitulah terdapat pula pintu-pintu lainnya dari samping kiri kanan dan belakang.
          Disebelah timur dari kuto ini terdapat pula kembara yang pada masa jauh sebelum kedatangan belanda ini telah dibangun kubu-kubu pertahanan yang dilengkapi dengan lapisan-lapisan cerucug dari kayu unglen terbentang dari pantai sebelah hilir sungai musi sampai kepantai seberang hulu sungai musi berikut rantainya. Ketiga kubu pertahanan atau istilah sekarang benteng yang terletak di pulau kembara, bernama benteng ”manguntama” yang kedua terletak disebelah hilir bagus kuning yaitu bernama benteng pertahanan ”Martapura” dan yang terletak di muara pelaju adalah benteng pertahanan yang terbesar bernama ”Tambakbaja”.
          Seperti kita ketahui bukan saja di pelimbang. Kompeni belanda dalam melakukan kontraknya selalu berbuat curang dan melakukan penyelundupan-penyelundupan, baik oleh pihak kompeninya sendiri. Maupun pribadi orangnya sendiri, tetapi rata-rata diseluruh wilayah nusantara kita ini. Maka atas penipuan-penipuan tersebut timbulah amarah rakyat pelimbang terhadap kompeni belanda. Pada bulan desember 1658 kapl-kapal belanda  diserbu secara serentak oleh kerajaan pelimbang bersama-sama rakyat dibawah pimpinan Pangeran Ario Kusuma Abdulrochim Kiayi Mas Endi dengan dibantu oleh :
1.            Adiknya Putri Ratu Emas Temenggung Bagus Kuning Pangluku
2.            Pangeran Mangku Bumi Nembing Kapal.
3.            Kiyai Demang Kecek.

Didalam pertempuran tersebut maka sebahagian dari anak kapal Cornelisz Oc-kerse dapat ditewaskan, sebagian ditawan sebagian lagi  dapat lolos melalui Jambi kemarkasnya di Betawi. Dua kapal besar belanda dari angkatan lautnya yaitu, ’JAKARTA’ dan ’ de WACHTER’ dapat dikuasai dan dimenangkan oleh pelimbang dalam peperangan tersebut. Kemudian kedua kapal tersebut disimpan di pulau kembara. Kesemuanya ini adalah akibat kecurangan dari pihak kompeni belanda yang dalam pelaksanaan kontrak dagangnya dengan kerajaan pelimbang tidak mematuhi peraturan kontraknya sendiri.
          Rupanya kompeni tidak melupakan kejadian tersebut begitu saja, satu tahun kemudian pada tanggal 10 november 1659 menyusul satu armada kapal perang dibawah pimpinan commandeur JOHAN vender LAAN dimuka kubu pertahanan (benteng) Manguntama, dan benteng tambak jaya yang terletak di pulau kembara dan muara sungai komering, menggempur benteng pertahanan pelimbang tersebut. Pada hari permulaan Belanda keisian dan dipukul mundur sampai posisi pulau salah nama sebab kapal-kapal perang mereka banyak yang rusak tenggelam, orang-orangnya banyak yang cidera karena tembakan oleh meriam Sri Pelimbang yang sangat dibanggakan oleh rakyat pelimbang dan diakui oleh musuh kehebatannya itu, baik dari segi kaliber kekuatan maupun keampuhannya sehingga pada jaman itu meriam musuh yang dapat menandinginya.
          Dalam keadaan posisi yang parah itu maka pihak pihak musuh mencari siasat dan jalan keluar berupa mengincar letak pusat penyimpanan obat mesiu pelimbang. Walaupun bagaimana sulitnya untuk mendapatkan rahasia penyimpanan tersebut, akhirnya letak dari gudang-gudang obat mesiu itu dapat juga diketahui oleh mereka, diledakkan oleh musuh pusat pennyimpanan mesiu di benteng tambak baya di muara pelaju itu.
Oleh karena itu maka posisi pertempuran beberapa kali berubah –ubah dan akhirnya dikarenakan gudang-gudang mesiu pelimbang terbakar, maka palembang harus bertempur dengn senjata tajam, seperti keris, pedang, panah, tombak nibung, yaitu semacam tombak bambu runcing yang berbisa sekali. Dikarenakan kuto gawang hampir habis terbakar itu maka pasukan dan rakyat palemban berangsur mengundurkan diri kepedalaman. Raja pelimbang, sido ing rejek berikut rakyatnya kemudian mendirikan kuto baru di pedalaman yang diberi nama indralaya yang dijadikan tempat kedudukan raja pelimbang. Sebagian besar rakyat pelimbang dibawa oleh raja mengungsi ke saka tiga, pedamaran, tanjung batu dan pondok, tetapi kemudian sebagian besar dari mereka tinggal menetap ditempat-tempat tersebut hingga sekarang telah berkeluarga, turun temurun menjadi penduduk ditempat-tempat tersebut. Setelah pelimbang dan kuto gawang hampir dikosongkan dengan mengungsinya sebagian besar penduduknya ke pedalaman, maka dalam pada itu raja mengambil siasat melakukan sistem peperangan secara pengepungan (blokade) dan gerilya terhadap kompeni belanda dan raja sendiri pindah ke saka tiga. Ternyata masih banyak peniggalannya di tempat tersebut yaitu. Makam perkuburannya sendiri, masjid, balainya dan lain-lain. Pada siang harinya rakyat dan tentara pelimbang menghilang tidak menampakkan diri di kuto yang sebagian telah dibakar dan dibumi hanguskan itu, dan baru pada malam harinya diadakan kesibukan-kesibukan. Sandang dan pangan tidak di jual belikan kepada kompeni belanda, sehingga mereka lama kelamaan menderita kekurangan persediaan.
Di indralaya, saka tiga, pedamaran, pondok, tanjung batu, dan daerah sekitarnya rakyat sibuk membuat alat-alat persenjataan untuk perang dan pembangunan. Di pondok khususnya untuk pertemuan, oleh raja sendiri diadakan dan dipimpin musyawarah besar bersama dengan alim ulama, hulubalang, pemimpin pasukan, pemuka rakyat perihal bagaimana cara melakukan siasat peperangan melawan musuh. Jikalau tadinya hanya kaum pria saja yang berperang, maka didalam musyawarah di pondok tersebut diambil keputusan antara lain, bahwa didalam peperangan yang akan diadakan nanti kaum wanita juga akan ikut serta yang pimpinananya akan ditunjuk adalah adik dari kyai kemas endi pangeran ario kusumo abdul rochim, ratu bagus kuning dengan gelar Tumenggung Bagus Pangluklu, yaitu adik dari Pangeran Sido Ing Rejek.
Maka didalam menghadapi peperangan yang akan dilakuakan pada hari-hari mendatang melawan belanda itu setelah diadakan persiapan-persiapan itu da;lam waktu yang cukuo lama dan matang dengan cara kerja sama dan persaudaraan yang baik itu, maka di aturlah pimpinan oleh empat orang yaitu :
  1.  Pangeran Ario Kesumo Abdul Rochim adik raja sendiri, selaku pimpinan umum
  2. Pangeran Mangku Bumi Nembing Kapal dengan alim ulama, hulubalang dan pasukan sabililahnya
  3. Ki Demang Kecek dengan pasukan dan rakyatnya sebagian dari jambi dan sekutu-sekutunya.
  4. Ratu Tumenggung Bagus Kuning Pangluku, dengan srikandi-srikandi pimpinan serta pasukan-pasukannya.
Maka didalam peperangan berlangsung begitu dahsyat dan agak lama banyak jatu korban dikedua belah pihak. Lama kelamaan dipihak belanda tidak bertahan dengan serangan dari rakyat pelimbang secara gerilya maupun secara langsung terus menerus dari pedalaman dan segala penjuru. Disamping itu menilik pula bahwa posisi belanda selama di blokade itu banyak diantara mereka yang sakit akibat kekurangan obat dan pangan dan selama itu tidak dapat turun ke daratan dan kekurangan perlengkapan. Melihat hal demikian serangan dari pihak palembang berjalan terus , maka armada belanda kemudian tidak dapat bertahan lebih lama lagi dengan banyak korban Comandeur JOHAN vander LAAN
Menundurkan diri ke perairan yang aman di luar jarak tembakan meriam dari ketiga benteng pertahanan pelimbang yaitu : Tambak baya, pulau kembara laut dan kembara darat dan mangun tama. Dua hari kemudian armada angkatan perang belanda dipimpin oleh Comandeur JOHAN vander LAAN dan wakil komandeurnya JOHAN TEREUYTMAN meninggalkan perairan musi  dan mengundurkan diri ke Batavia (Betawi).
Sejak terbakar habisnya keraton Kuto Gawang, Palembang telah rata dengan tanah. Akan tetapi Palembang harus bangkit dan perlu kepemimpinan. Kemas Hindi dengan upaya dan kharismanya yang tinggi, menegakkan kembali harkat dan martabat Palembang. Ia berhasil memimpin, membentuk serta membangun kembali peradaban Palembang pasca perang 1659, dan memutuskan keterikatan dengan Jawa terutama Mataram. Kemudian pada tahun 1666, Pangeran Ario Kusumo Kemas Hindi memproklamirkan Palembang menjadi Kesultanan Palembang Darussalam dan beliau dilantik sebagai sultan oleh Badan Musyawarah Kepala-kepala Negeri Palembang dengan gelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam serta mendapat legalitas pula dari Kerajaan Istambul (Turki Usmani). Sebuah keraton baru Kuto Cerancangan di Beringin Janggut dibangunnya dalam tahun 1660, dan sebuah masjid negara (1663). Masjid ini kemudian dikenal dengan Masjid Lama (17 ilir sekarang) dan kini hanya tinggal namanya saja.
Bapak pembangunan Kesultanan Palembang Darussalam ini setelah wafatnya disebut dengan Sunan Candi Walang, makamnya terdapat di Gubah Candi Walang 24 ilir Palembang, pemerintahannya selama 45 tahun. Dibawah kepemimpinan beliaulah Islam telah menjadi agama Kesultanan Palembang Darussalam (Darussalam = negeri yang aman, damai dan sejahtera) dan pelaksanaan hukum syareat Islam berdasarkan ketentuan resmi. Beliaulah yang memantapkan menyusun, mengatur serta mengorganisir struktur pemerintahan modern secara luas dan menyeluruh, hukum dan pengadilan ditegakkan, pertahanan, pertanian, perhutanan dan hasil bumi lainnya ditata dengan serius. Struktur pemerintahan di tata sesuai menurut adat istiadat negeri yang lazim diatur leluhur kita di Palembang ini. Sultan mempunyai seorang penasehat Agama dan seorang sekretaris. Juga didampingi pelaksana pemerintahan sehari-hari sebagai pelaksana harian dan didampingi oleh Kepala Pemerintahan setempat sebagai Kepala Daerah. Tiga orang sebagai anggota Dewan Menteri terdiri dari pangeran Natadiraja, pangeran Wiradinata dan pangeran Penghulu Nata Agama yang mengatur tentang seluruh permasalahan Agama Islam.


PERANG PALEMBANG PERTAMA – VOC (1659)
 






KERATON PALEMBANG (1821)


SEJARAH SMB II



SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
Sultan Palembang Darussalam (1803-1821)
Beliau sebagai Sultan Palembang ke 8  yang alim dan bijaksana. Nama lengkapnya ialah Raden Muhammad Hasan anak dari Sultan Muhammad Bahauddin, Ibunya bernama Ratu Agung bin Datuk Murni bin Abdullah al-Haddadi. Ia dilahirkan pada hari Ahad tanggal 1 Rajab 1181H atau 1767M. di lingkungan keraton. Sebagaimana putra mahkota, ia dididik dan ditempa untuk menjadi pewaris tahta Kesultanan Palembang. Pendidikan agamanya didapat dari ulama besar waktu itu seperti: Syekh Abdus Somad al-Palembani, Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin, Syekh Ahmad bin Abdullah,Syekh Kms.Muhammad bin Ahmad, dan Sayid Abdurrahman al-Idrus. Kepada Syekh Abdus Somad, ia mengambil dan mengamalkan Tarekat Sammaniyah.
          RM.Hasan memiliki kemauan yang besar untuk belajar dan mempunyai otak yang cerdas. Ia menguasai bahasa Arab dan Portugis serta hafal kitab suci al-Qur’an.
          RM. Hasan dinobatkan menjadi sultan pada hari Senin  tanggal 21 Zul Hijjah 1218H bersamaan 3 April 1804M setelah ayahnya wafat, dengan gelar Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin (SMB II) Khalifatul Mukminin Sayidul Imam.
          Selain sebagai sultan, ia juga seorang ulama saleh, imam besar Masjid Agung, tokoh Tarekat Sammaniyah, penulis, seorang olahragawan terutama pencak silat dan bidar. ia sangat gemar membaca dan menulis, mempelajari ilmu pengetahuan baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, diantaranya kitab-kitab Yunani, Arab dan Mesir, tentang kemasyuran Iskandar Yang Agung, Perang Salib, kedatangan bangsa-bangsa Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda ke Malaka, Aceh, Jawa dan Maluku. Ia memiliki wawasan yang luas dengan didukung oleh koleksi perpustakaannya di keraton yang cukup banyak. Ia sangat terpelajar, organisator yang baik, diplomat ulung, ahli pertahanan yang pintar dan cekatan.
          Kitab-kitab karangannya antara lain: Syair Nuri, Pantun Sipelipur Hati, Sejarah Raja martalaya, Nasib Seorang Kesatria Signor Kastro, dll.
                   SMB II menjabat sebagai sultan selama tujuh tahun bergantian dengan adiknya Sultan Ahmad Najamuddin II ( Susuhunan Husin Dhiauddin), setelah. Selama pemerintahannya, sering terjadi beberapa pertempuran dengan Belanda dan Inggris yang ingin menguasai Palembang, seperti peristiwa pada tahun 1811, 1819 dan 1821. Dalam Bulan Desember  tahun 1819  Sultan Mahmud Badaruddi II menobatkan  Putra Sulungnya menjadi Raja dengan Gelar Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu (1819 – 1821) , dan Sultan Mahmud Badaruddin II bergelar Susuhunan
Setelah kalah perang dengan Belanda pada tanggal 3 Juli 1821  SMB II dan Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu beserta keluarganya diasingkan dan dibuang ke Ternate Maluku Utara. akibat politik kolonial “Devide et Empera” (adu domba).SMB II wafat di Ternate pada hari Jum’at tanggal 26 Nopember 1852 bersamaan 14 Safar 1269H dalam usia 84 tahun dalam pengasingannya selama 32 tahun.
          Pada tahun 1984, Sultan Mahmud Badaruddin II diberi pengharagaan oleh Pemerintah RI menjadi Pahlawan Nasional.
SMB II paling tidak memiliki 9 orang isteri diantaranya: Embok Pati Rasmi, Ratu Sepuh Asma, Ratu Anom Kosimah,  Ratu Anom Kosimah, Nyayu Soleha, Nyimas Jairah, Nyayu Robi’ah, Mas Ayu Ratu Ulu, Mas Ayu Ratu Ilir, Ratu Alit. Dari perkawinannya ini ia dikaruniai 61 anak.
-      Dengan isteri pertamanya Embok Pati Rasmi, melahirkan seorang puteri, yaitu:
  1. Raden Ayu Kramo Jayo Hatimah
-    Dengan isterinya Ratu Sepuh Asma binti Pangeran Adipati Banjar Kutma bin Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, melahirkan 13 orang anak:
  1. Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu
  2. Pangeran Bupati Hamzah
  3. Raden Ayu Halimah
  4. Pangeran Prabu Kesumo Abdul Hamid
  5. Raden Ayu Purbayo Fatimah
  6. Pangeran Prabu Wijaya Husin
  7. Raden Ayu Azimah
  8. Pangeran Prabu Wijaya
  9. Raden Ayu Azimah Cek Ayu
  10. Raden
  11. Raden
  12. Raden

    -   Dengan isterinya Ratu Anom Kosimah, memiliki 10 orang anak:
  1. Pangeran Prabu Nindito Muhammad
  2. Raden Ayu Kramo Nato Hasanah
  3. Pangeran Prabu Dilaga Muhsin
  4. Raden Ayu Fatimah
  5. Raden Ayu Salma
  6. Pangeran Surya Dilaga Toha
  7. Raden Ayu Saha
  8. Raden Ayu Nur
  9. wafat lagi bayi
  10. wafat lagi bayi
-      Dengan isterinya Nyayu Soleha, mempunyai 2 orang putera:
  1. Pangeran Suto Wijaya Usman
  2. Pangeran Suto Krama Akil
-      Dengan isterinya Nyimas Jairah, memperoleh 2 orang anak:
  1. Pangeran Suto Dirajo Abubakar
  2. Raden Ayu Kramo Dirajo Salimah
-      Dengan isterinya Nyayu Robi’ah, melahirkan seorang putera:
  1. Pangeran Putera Dinata Ali
-      Dengan isterinya Masayu Ratu Ulu Nyimas Zubaidah binti Kemas Haji Muhammad bin Kms.H. Ahmad, dikaruniai 9 putera-puteri:
  1. Raden Ayu Kramo Diwangso Najimah
  2. Raden Ayu Azimah
  3. Pangeran Prabu Diraja Abdullah
  4. Raden Ayu Nazimah
  5. Pangeran Prabu Wikramo Abdurrahman
  6. Pangeran Prabu Wikramo Tohir
  7. Raden Ayu Zakiah
  8. Raden Ayu Hajima
  9. Raden Ayu Aminah
-      Dengan isterinya Masayu Ratu Ilir, memperoleh 9 orang anak:
  1. Pangeran Prabu Menggala Umar
  2. Pangeran Prabu Diwangsa Zen
  3. Raden Ayu Azizah
  4. Raden Masyhur
  5. Raden Ayu Maryam
  6. Pangeran Idrus
  7. Raden Ayu Cik
  8. Pangeran Prabu Nata Menggala Alwi
  9. Raden Ayu Alwiyah.
-      Dengan isterinya Ratu Alit, dikaruniai 15 orang putera-puteri:
  1. Pangeran Prabu Dikara asin
  2. Raden Ayu Siha
  3. Raden Ayu Salma
  4. Raden Ayu Sidah
  5. Raden Kosim
  6. Raden Ayu Nur
  7. Pangeran Surya Kesuma Syekh
  8. Raden Ayu Ayu
  9. Pangeran Kesuma Menggala Mahdor
  10. Pangeran Kesuma Nindita Dain
  11. Raden Ayu Zahra
  12. Raden Ayu Habibah
  13. Raden Ayu Latifah
  14. Pangeran Kesuma Diraja Muhammad Sapin
  15. Pangeran Kesuma Dimekaya Hanan

SEJARAH GELAP PALEMBANG.....

      Kenalkah Anda dengan Sultan Mahmud Badaruddin ? Itu lho yang gambarnya ada di uang kertas kita pecahan 10 ribuan. Nah, tahukah Anda bahwa di antara deretan prestasi yang dibuat oleh penjajah muda multi talenta Raffles, ternyata dia juga menyimpan sisi gelap ? Lalu apa hubungannya Sultan Mahmud Badaruddin dengan Raffles ? Ini yang saya mau coba dongengkan sekarang, tentu saja setelah mempelajari beberapa data dan fakta sejarah yang saya dapatkan dari beberapa literatur dan sumber-sumber kepustakaan yang saya punyai.       Kerajaan Kesultanan Palembang sudah berdiri dengan megahnya sejak Belanda belum datang sebagai penguasa di Nusantara. Nah, 3 tahun sebelum Daendels datang ke Batavia, tepatnya di tahun 1804, Sultan Mahmud Badaruddin naik tahta untuk menggantikan ayahandanya, Sultan Muhammad Baha’uddin yang wafat setelah 27 tahun memerintah Kesultanan Palembang. Konon, Sultan Mahmud Badaruddin memerintah dengan adil, berwibawa dan bijaksana sehingga dia sangat dihormati dan dicintai oleh rakyatnya. Sekedar informasi, Sultan Mahmud Badaruddin ini mempunyai adik yang bernama Ahmad Najamuddin dan mereka hidup dengan rukun.
       Di tulisan sebelumnya saya menulis bahwa jauh sebelum Lord Minto merebut Batavia dari Belanda - Perancis, Raffles secara aktif mengirimkan intelijen dan surat rahasia kepada sultan-sultan di Nusantara untuk menentang kekuasaan Hindia Belanda atau paling tidak mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu Inggris merebut kekuasaan dari Belanda. Jelas, Raffles sangat yakin bahwa pendudukan Inggris hanya tinggal menunggu waktu.

       Pada surat rahasia terakhir yang dikirimkan Raffles ke Sultan Mahmud Badaruddin, Raffles juga menyelundupkan 80 pucuk senapan dan 10 keranjang amunisi sebagai bentuk dukungan Raffles kalau Palembang berniat melawan Belanda. Dalam surat tersebut Raffles berjanji bahwa bila Inggris berkuasa, Palembang akan dijadikan kesultanan yang otonom, yang berdiri sendiri.
Saat itu pun tiba. Tahun 1811, Inggris menguasai Batavia dan melalui Rekapitulasi Tuntang Tanah Jawa dan sekitarnya jatuh kepada Inggris. Mirip dengan proklamasi 17 Agustus 1945 yang memanfaatkan kosongnya kekuasaan karena menyerahnya Jepang kepada Sekutu, demikian pula Sultan Mahmud Badaruddin memanfatkan situasi tak menentu paska menyerahnya Belanda tersebut.

    Dengan pintar, Sultan Mahmud Badaruddin memanfaatkan janji dari Raffles itu untuk melepaskan diri dari kekuasaan Belanda. Mendengar informasi atas kekalahan Belanda dari Inggris, Sultan Mahmud Badaruddin langsung mengirim surat kepada Residen Belanda di Palembang. Isinya kurang lebih sebagai berikut, “Karena Batavia telah diambil alih oleh Inggris maka saya meminta benteng Palembang dikosongkan. Kalau Belanda kembali berkuasa di Batavia, benteng akan dikembalikan ke Belanda.”
Apa jawaban Van Woortman, Residen Belanda ? “Meskipun Jawa sudah dikuasai Inggris, dengan ini saya tidak akan menyerahkan benteng Palembang tanpa instruksi dari pimpinan saya di Batavia.”

     Penolakan sang Residen berakibat pada penyerbuan dan penguasaan Benteng Palembang oleh pasukan kesultanan Palembang. Seluruh penghuni benteng yang terdiri dari 24 orang Belanda dan 63 pasukan Jawa kemudian diikat menjadi tawanan. Mereka diangkut ke kapal yang dikira akan diberangkatkan ke Batavia. Ternyata 24 orang Belanda tersebut disembelih di Sungsang, muara Sungai Musi. Sementara 63 pasukan Jawa dimasukkan ke dalam palka kapal lalu palka tersebut ditutup dengan papan yang dipaku. Berikutnya kapal dilubangi sehingga semua pasukan Jawa tersebut mati tenggelam di Sungai Musi. Sebuah catatan menuliskan bahwa ternyata tidak semua tawanan Belanda disembelih. Pasukan Palembang membebaskan seorang anak tawanan yang bernama Willem Buys, anak Belanda yang beribu orang Palembang. Sang anak dibebaskan bersama wanita dan anak-anak Jawa yang lain.
       Sejarah di Palembang ini terulang kembali pada tanggapan pasukan Jepang paska proklamasi 17 Agustus 1945. Walaupun sudah dihimbau berulangkali oleh pihak Indonesia untuk menyerahkan senjatanya, tapi mereka menolaknya dengan alasan tidak ada perintah dari komandannya. Akibatnya di mana-mana mereka nyaris dihancurkan oleh laskar-laskar dan tentara TKR yang ingin merebut senjata mereka untuk melawan pasukan sekutu yang mendarat di Indonesia. Untung dalam beberapa kasus mereka bisa diselamatkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
     Dari sisi politis, tindakan sang sultan sebenarnya untuk menunjukkan bahwa kesultanan Palembang sudah berhasil dibebaskannya dari tangan Belanda walau tanpa bantuan pihak Raffles atau Inggris. Mirip dengan Bung Karno dan Bung Hatta yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia 2 hari setelah Jepang menyerah dan beberapa minggu sebelum tentara sekutu mendarat, dimaksudkan bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan sendiri, tanpa bantuan Jepang ataupun pihak asing. Mirip kan ?
Di sisi lain, Raffles merasa bahwa karena Palembang adalah bekas daerah kekuasaan Belanda maka secara otomatis ia adalah wilayah kekuasaan Inggris juga sekarang. Karena itu Raffles mengirim 3 orang utusan dipimpin oleh Richard Philips ke Palembang untuk mengambil alih kantor sekaligus benteng Belanda di Palembang dan meminta hak kuasa sultan atas tambang timah di Pulau Bangka.
Sultan Mahmud Baharuddin menolak permintaan itu dengan merujuk pada surat Raffles sebelumnya bahwa kalau Belanda berhasil diusir, Palembang akan menjadi kesultanan yang merdeka. Tentu saja Raffles kaget luar biasa setelah mengetahui bahwa dengan cerdas Sultan Mahmud Badaruddin menjadikan isi suratnya dahulu sebagai legitimasi untuk melepaskan diri dari kekuasaan Inggris.
Nah, inilah yang saya maksud sebagai sisi gelap Raffles itu. Raffles akhirnya memilih mengkhianati janjinya tersebut. Dia mengirim ekspedisi perang di tahun 1812 yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Robert Gillespie. Sebulan kemudian sampailah ekspedisi tersebut di Sungai Musi.

      Kalau Anda sudah menonton film perang mandarin Red Cliff, kurang lebih seperti itulah jalannya peperangan di Palembang. Bak panglima perang Zhou Yu saat menghadapi armada perang Cao Cao di film Red Cliff, Sultan Badaruddin juga sudah bersiap-siap menghadapi gempuran tersebut. Dibangunnya pertahanan di setiap lokasi yang strategis. Disiapkannya pula rakit yang dilengkapi meriam juga perahu bersenjata api. Seperti dalam film Red Cliff, pasukan Sultan Badaruddin juga membuat rakit-rakit yang memuat minyak yang mudah terbakar. Rencananya rakit api ini akan diarahkan untuk ditabrakkan ke kapal Inggris. 242 meriam juga disiapkan di benteng Palembang untuk menghadapi pertempuran ini.
Tapi berkebalikan dengan film Red Cliff yang berakhir pada kemenangan di pihak Zhou Yu, kesultanan Palembang akhirnya jatuh ke tangan Inggris hanya dalam hitungan seminggu. Gara-garanya, pertahanan di Pulau Borang sudah jebol tanpa perlawanan yang berarti. Usut punya usut ternyata adik sultan yang bernama Pangeran Adipati Ahmad Najamuddin telah menjadi komandan yang pengecut bagi pasukannya di pulau yang strategis ini. Mengetahui itu, Sultan Badaruddin segera meninggalkan kraton Palembang dengan membawa seluruh tanda kebesaran kesultanan lalu mempersiapkan perlawanan gerilya terhadap Inggris.
Sama saja dengan Belanda yang menerapkan politik adu domba, demikian pula Raffles di Palembang. Tanggal 26 April 1812 bendera Inggris sudah berkibar di atas benteng Palembang. 14 Mei 1812, Najamuddin diangkat oleh Robert Gillespie atas nama Inggris sebagai sultan Palembang menggantikan kakaknya. Tambang timah di Pulau Bangka dan Belitung pun akhirnya diserahkan oleh sultan boneka ini kepada Inggris. Menyusul keberhasilan ekspedisi ini, Robert Gillespie ditarik pulang ke Batavia untuk digantikan oleh kapten R. Mearers menjadi Residen Palembang. Pertengahan Agustus 1812, Mearers memimpin pasukannya untuk menyerbu pertahanan gerilya Sultan Badaruddin di Buaya Langu, hulu Sungai Musi. Dalam pertempuran tersebut, Mearers mengalami luka parah yang berujung pada kematiannya di sebuah rumah sakit di Muntok.
     Meares lalu digantikan oleh Mayor William Robinson. Tampaknya dia tidak cocok dengan Sultan Najamuddin yang dinilai menjadi sultan yang lemah dan tidak dihargai oleh rakyat Palembang. Dia sebenarnya juga tidak setuju dengan keputusan Raffles mengangkat sang sultan tersebut. Juga kebiasaan Raffles yang suka mengumbar janji, juga pembiaran yang dilakukan Raffles pada peristiwa pembantaian pasukan Belanda. Karena itu atas inisiatifnya sendiri Robinson mengirim seorang perwira didampingi penerjemah untuk bernegosiasi dengan Sultan Badaruddin. Misi gagal.
Ingatkah saat Gus Dur mengirimkan pejabat kepercayaannya untuk bertemu dengan panglima GAM di suatu tempat rahasia di Aceh ? Mirip dengan yang dilakukan oleh Robinson ya ?!. Akhirnya Robinson datang sendiri menemui Sultan Badaruddin di Muara Rawas pada tanggal 19 Juni 1813. Misi berhasil. Sultan Badaruddin mau kembali ke Palembang untuk kembali menjadi sultan menggantikan adiknya, Najamuddin. Sementara dia mengijinkan Inggris untuk meneruskan konsesi timahnya di Pulau Bangka dan Belitung. Demikianlah akhirnya tanggal 13 Juli 1813, Sultan Badaruddin kembali menghuni istananya (keraton besar) di Palembang. Sementara Najamuddin bertempat tinggal di keraton lama.
         Apakah cerita berakhir saja sampai di sini ? Ternyata belum. Raffles tersinggung berat dengan keputusan si Robinson dengan dalih tidak meminta pendapatnya lebih dahulu. Akhirnya perjanjian Robinson dengan Sultan Badaruddin dibatalkan sepihak. Robinson dipecat lalu ditangkap dengan alasan menerima suap dari Sultan badaruddin.
4 Agustus 1813, armada Inggris dipimpin Mayor W. Colebrooke tiba di Palembang untuk menurunkan Sultan Badaruddin dari tahtanya kembali untuk digantikan oleh Sultan Najamuddin. Uang yang dikatakan uang suap untuk Robinson, dikembalikan pihak Inggris ke Sultan Badaruddin lengkap dengan bunganya. 21 Agustus 1813, Sultan Najamuddin kembali menduduki tahtanya di keraton besar.

    Sejak itu Palembang tidak pernah tenang lagi. Wibawa kesultanan begitu merosot. Palembang harus puas hanya memiliki pendapatan dari merica saja. Inggris menikmati konsesi timah di Bangka dan Belitung. Didatangkanlah buruh-buruh Cina dari Kanton yang berhasil meningkatkan produksi timah 3 kali lipat di tahun 1816. Sejak itulah cerita yang dituturkan Andrea Hirata dalam tetralogi Laskar Pelangi-nya mengenai penambangan timah di Bangka dan Belitung dimulai. Jadi ternyata tulisan ini masih berkaitan jua dengan novel Laskar Pelangi ya he..he…
1814, Napoleon kalah. Sesuai traktat London yang ditandatangani pada tanggal 13 Agustus 1814, Belanda kembali berkuasa di Nusantara. 27 Oktober 1817, Mr. Herman Warner Muntinghe diangkat menjadi komisaris pemerintahan Belanda di Palembang dan Bangka. Dengan lihai, tanggal 20 dan 24 Juni dia berhasil mendapatkan Palembang secara utuh, imbalannya Sultan Najamuddin harus turun tahta tapi masih bisa menempati kraton tua, sementara Sultan Badaruddin diangkat kembali menjadi sultan di keraton besar walau sebatas simbol belaka. Sebagai pemasukan, keduanya hanya mendapat gaji dari Belanda.
Saat Raffles pulang dari cutinya di Inggris untuk kemudian kembali menjadi letnan jenderal di Bengkulu, 22 Maret 1818, dia marah luar biasa mengetahui Palembang sudah dikuasai Belanda. Dipanas-panasinya Sultan Najamuddin untuk memberontak terhadap Muntinghe. Raffles menyusupkan ratusan pasukannya dari Bengkulu untuk mengibarkan bendera Union Jack di istana Palembang tanggal 4 Juli 1819. Muntinghe tak terima perlakuan Raffles tersebut. Dilucutinya tentara Inggris, ditawannya Sultan Najamuddin lalu wilayah kekuasaan Najamuddin diserahkan kepada Badaruddin.
Raffles yang marah mengirimkan pasukan sejumlah 400 tentara dipimpin Residen Hayes untuk menancapkan bendera Inggris di Muara Beliti Palembang. Muntinghe merespon dengan mengasingkan Najamuddin dan keluarganya ke Priangan (inilah asal mula terjadinya komunitas Palembang di Jawa Barat itu). Muntinghe membawa pasukan besarnya ke Muara Beliti. Ketika pasukan Hayes sampai di Palembang, kota itu sudah kosong tanpa makanan karena orang Belanda dan penduduk asli sudah menyingkir pula. Akibatnya pasukan Hayes mengalami kelaparan luar biasa yang berbuntut pada kematian Hayes.
Raffles pun akhirnya menyerah atas isu Palembang ini. Itu pun setelah mendapat peringatan keras dari bossnya, Gubernur Jenderal Inggris di India. Ternyata pemerintah Hindia Belanda menyampaikan keluhan resmi kepada Gubernur Jenderal Inggris di India atas manuver-manuver Raffles di Palembang.
Inilah kegagalan Raffles yang kesekian kalinya untuk mengelola isu Palembang. Sejarah berulang, pemerintah sekarang pun tampaknya juga kelabakan mengelola setiap fakta yang dilontarkan oleh Susno Duaji, yang tidak lain adalah orang Palembang juga he..he…
Sekian dulu ya dongeng saya tentang Palembang ini, saya akan melanjutkan kelak dalam serial berikutnya saat Palembang bergolak menghadapi Belanda sesudah campur tangan Raffles berakhir.
Sampai jumpa dengan dongeng berikutnya mengenai Raffles saat dia masih di Bengkulu ya, termasuk lika-liku usahanya dalam mendapatkan Singapura. Tabik !!